Kisah Pilu Sopir Angkot Biru Pemalang: Dulu Jadi Rebutan, Kini Cari Penumpang Susah
Bahrul (55), sopir angkot jurusan Sirandu–Petarukan, sudah hampir 36 tahun menggantungkan hidupnya di balik kemudi. Ia pernah merasakan masa ketika penumpang datang silih berganti, angkot penuh sesak, dan mencari nafkah dari jalanan terasa lebih menjanjikan.
Kini, keadaan berbalik. Bukan lagi penumpang yang sibuk mencari angkot, melainkan sopir yang harus menunggu berjam-jam.
"Dulu sekitar tahun 1989 sampai 1996 itu masa kejayaan angkot. Penumpang yang mencari angkot, bukan angkot mencari penumpang seperti sekarang," kenang Bahrul.
Setor Rp50 Ribu Pun Susah
Baginya, perubahan itu bukan sekadar soal jalanan yang semakin sepi. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, bahan bakar yang harus dibeli, dan setoran yang tetap menanti, meski penumpang tak kunjung datang.
Dalam sehari, jumlah penumpang yang diangkut terkadang bahkan tidak mencapai 20 orang. Waktu berjam-jam yang dihabiskan di jalan belum tentu sebanding dengan penghasilan yang diperoleh.
Bahrul mengaku, dahulu setoran sekitar Rp20 ribu masih memungkinkan sopir membawa pulang uang untuk keluarga. Namun, kini setoran Rp30 ribu hingga Rp50 ribu saja terasa berat.
"Sekarang mau setor Rp30 ribu sampai Rp50 ribu saja susah, apalagi berharap sisa untuk dibawa pulang," keluhnya, Rabu (28/10).
Di balik kemudi, Bahrul tetap bertahan. Setiap hari ia kembali menjalani rutinitas yang sama, menyusuri jalanan, menunggu penumpang, dan berharap pendapatan hari itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah.
Dulu Andalan, Kini Kalah Saing
Ia bukan satu-satunya sopir yang merasakan perubahan tersebut. Parihin (55), yang telah mengemudikan angkot sejak 1989, juga menyaksikan bagaimana transportasi umum yang dahulu menjadi andalan masyarakat perlahan kehilangan penumpang.
Menurutnya, semakin banyaknya kendaraan pribadi membuat masyarakat memiliki pilihan transportasi yang lebih beragam.
"Dulu tahun 90-an penumpang masih ramai. Sekarang kendaraan pribadi sudah banyak," tuturnya.
Perubahan juga datang dari kehadiran ojek online. Dengan hanya menggunakan telepon genggam, masyarakat kini bisa memesan kendaraan tanpa harus menunggu angkot melintas.
Bagi penumpang, perubahan tersebut mungkin menawarkan kemudahan. Namun, bagi sopir seperti Bahrul dan Parihin, perubahan itu berarti persaingan yang semakin ketat.
Di jalanan Pemalang, angkot biru masih beroperasi. Kendaraan yang dahulu akrab dengan aktivitas masyarakat itu tetap melaju, meski tak lagi seramai masa kejayaannya.
Mereka tak meminta jalanan kembali seperti dahulu. Mereka hanya berharap masih ada penumpang yang membutuhkan jasa angkot, sehingga pekerjaan yang telah digeluti selama puluhan tahun tetap bisa menghidupi keluarga.
Di balik angkot biru yang kian sepi, ada para sopir yang tak pernah benar-benar berhenti berharap. Selama mesin masih bisa dinyalakan, mereka akan tetap melaju.
Penulis: Ragil


Posting Komentar